Peluang Usaha Makanan Ringan Modal Minim, Dim Sum Rumahan

Peluang Usaha Makanan Ringan Modal Minim, Dim Sum Rumahan

Peluang Usaha Makanan Ringan Modal Minim, Dim Sum Rumahan

Pada satu kesempatan saya mendapat oleh-oleh dari seorang saudara dimsum kemasan siap saji yang halal. Rasaya sangat menggoda lidah dan meski tanpa pengawet, bisa menempuh perjalanan jauh tanpa menurunkan kualitas. Saya jadi ingin mencari tahu lebih jauh soal usaha ini, apakah peluang usaha makanan ringan ini membutuhkan modal besar?

Buat Anda yang belum kenal dengan dimsum, saya akan coba perkenalkan dulu. Dimsum ini sebenarnya sajian khas negeri Tiongkok, tepatnya dari daerah Kanton, China. Dalam bahasa aslinya, dimsum berarti makanan ringan. Meski tidak bisa sepenuhnya dikatakan makanan ringan, karena isinya cukup padat dan mengenyangkan.

Biasanya di negeri asalnya  dimsum identik dengan sajian dengan kulit lumpia dengan isian aneka daging cincang, baik itu ayam, udang, ikan tenggiri, hingga daging sapi dan babi. Sajian dikukus hingga matang dan disajikan bersama saus cocolan yang asam pedas dengan arak beras sebagai penyedap.

Untuk sebuah peluang usaha makanan ringan di Indonesia, tentu saja sajian ini harus Anda adaptasi dengan selera dan kebutuhan lokal. Termasuk menyingkirkan penggunaan bahan non halal sehingga bisa menjadi konsumsi segala lapisan masyakarat. Tentu saja menjual produk halal juga lebih berkah bukan?

Kembali pada penelusuran yang saya lakukan yang mempertemukan saya dengan beberapa produsen dimsum rumahan. Saya sempat mendapat beberapa informasi menarik. Informasi terpenting pertama yang ingin saya share dengan Anda adalah soal potensi peluang usaha makanan ringan ini.

Menurut salah seorang produsen dimsum rumahan di kota Jakarta, yang membuka semacam warung makan dan dimsum siap saji di sebuah lokasi kampus Rawamangun di Jakarta Timur sejak 2010, dalam sehari beliau harus membuat dimsum sebanyak 700 buah dengan penjualan 60 % menjadi hidangan warung makan dimsum miliknya dan sisanya terjual secara reseller dalam kemasan siap saji.

Berbeda dengan seorang produsen dimsum di daerah Pakuningratan, Yogya. Pelaku usaha yang seorang peranakan ini tentu saja sangat lihai membuat dimsum secara turun temurun sejak puluhan tahun. Namun demi merengkuh pasar yang luas, mereka sengaja memproduksi dimsum halal.

Mereka mengaku menghasilkan omset harian sekitar 500 ribu perharinya. Dengan menitipkan produknya melalui penjaja makanan keliling yang cukup terkenal di Yogya, mereka dengan cepat bisa merengguh pasar sekitaran Yogya.

Artikel lain: Usaha Kecil Rumahan

Lalu bagaimana caranya memulai peluang usaha makanan ringan satu ini? Berdasar dari kesimpulan atas hasil pencarian saya, berikut ini beberapa hal yang harus Anda lakukan ketika ingin mewujudkan ide membuka usaha dimsum rumahan.

  1. Persiapkan konsep produksi
    Usaha ini membutuhkan sistem produksi yang cukup rumit, mengingat sajian ini memang sedikit rumit dan sangat handmade. Jadi Anda harus merencanakan konsep produksi dengan sangat seksama.  Mulai dari peralatan masak yang besar dan lengkap, mesin cincang daging berkualitas, hingga tenaga kerja pembungkus dalam jumlah yang mencukupi produksi. Perlu pula Anda pertimbangkan ruang produksi yang mampu menampung tenaga kerja Anda. Pelajari pula bagaimana cara memasak produk dimsum yang tidak hanya enak, tetapi juga rendah biaya, tahan lama meski tanpa pengawet hingga teknik pengemasan terbaik untuk produk cepat saji. Pengemasan yang tepat menjadi faktor penentu dalam menjaga keawetan produk siap saji.
  2. Modal Usaha
    Untuk memulai usaha makanan ringan skala rumahan ini Anda bisa memulainya dari produksi kecil-kecilan. Mulai dari angka di bawah 1 juta. Angka ini untuk membeli peralatan dan bahan baku sesuai dengan kapasitas produksi. Untuk pengeluaran tenaga kerja bisa Anda tunda pada bulan berikutnya, ketika Anda sudah menghitung akumulasi penghasilan.
  3. Cari sumber bahan baku terbaik
    Salah satu tugas besar Anda dalam usaha ini adalah mencari bahan baku terbaik dengan harga terbaik. Anda bisa saja menemukan sumber bahan baku murah seperti mengolah sisa potongan filletikan segar dari pelelangan atau rumah pemotongan hewan.
  4. Tentukan pasar Anda dan teknik penjualan Anda.
    Biasanya produk dimsum lebih banyak digemari oleh kalangan menengah ke atas. Ini karena beberapa bahan bakunya macam udang dan ikan tenggiri memaksa Anda untuk menjualnya dengan harga cukup tinggi. Jadi kalau Anda bermaksud menjual dimsum original (yang halal) artinya Anda harus mencari celah masuknya produk Anda ke kalangan ini. Tetapi Anda juga bisa menjualnya kekalangan menengah kebawah dengan cara mengganti bahan baku dengan bahan substitusi yang lebih murah. Misalkan dengan menggunakan ikan lele sebagai bahan baku. Kembali cari celah terbaik untuk menjual produk dimsum Anda ke pasar ini. Anda bisa mencontoh ide menitipkannya pada penjual makanan ringan di pasar atau penjaja keliling. Mereka bisa menyentuh segala kalangan. Anda juga bisa menjual secara online dengan membuat facebook page atau web. Dengan pengukusan dan pengemasan yang cukup baik, dimsum bisa bertahan 30 jam di luar kulkas, jadi masih cukup mampu bertahan untuk pengiriman kilat luar kota
  5. Sistem manajemen sederhana
    Jangan anggap remeh urusan manajemen meski usaha Anda hanya skala rumahan. Siapa tau dari skala ini bisa beranjak menjadi skala nasional. Lagi pula dengan kontrol keuangan yang baik, pengelolaan sistem produksi dan sistem pemasaran yang optimal Anda juga akan diuntungkan dengan efisiensi dalam usaha Anda kan?

Nah…sekarang tinggal realisasinya, kapan Anda akan memulai usaha makanan ringan dimsum rumahan ini? Dengan modal minim Anda bisa memulai peluang usaha makanan ringan dimsun ini. Jangan ragu memulai lebih awal, siapa tahu Anda menjadi yang pertama di kota Anda. –Tim Siap Bisnis

Tag:

usaha dimsum rumahan, bisnis dimsum, usaha dimsum, cara membuka usaha dimsum, bisnis dimsum rumahan, usaha dimsum murah, analisis usaha dimsum, bisnis kuliner dimsum, biaya usaha dimsum, usaha rumahan makanan tahan lama
Peluang Usaha Makanan Ringan Modal Minim, Dim Sum Rumahan | Hari Murti | 4.5

Komentar :